[Cerpen] Sepasang Bintang yang Jatuh Cinta di Kedai Kopi

image

Astra Bellva, nama yang cukup unik untuk seorang perempuan Jawa sepertimu.” Bintang mengangkat sebelah alis sambil menyesap kopinya.

Aku tersenyum. “Kenapa? Apa Astra atau Bellva atau gabungan keduanya lebih mirip nama lelaki?

Dia menggeleng pelan. “Bukan. Awalnya kukira namamu Astraningrum atau Tri Astra bla bla bla… pokoknya berbau Jawa.

Aku teringat percakapan kami saat kali pertama akhirnya bertatap muka setelah nyaris setahun hanya berkomunikasi melalu dunia maya. Kami berkenalan di salah satu grup pertemanan di dunia maya karena sama-sama pembaca dan pencinta buku. Secara kebetulan kami tinggal sekota. Kantor tempatku bekerja hanya berjarak sekitar satu jam dengan kantor tempatnya bekerja sebagai programmer. Lalu, setelah pertemuan pertama itu ada pertemuan kedua, ketiga, kelima dan entah sudah keberapa. Dalam sebulan, minimal kami bertemu sebanyak satu kali.

“Hei, kok melamun?”

Di hadapanku, masih dengan lelaki sama yang kali pertama kutemui di kedai kopi ini, sekitar satu tahun yang lalu. Kami selalu bertemu di kedai kopi bernuansa modern dengan menu andalan kopi tradisional dari berbagai daerah di Indonesia ini. Bintang adalah seorang penggila kopi. Aroma tubuhnya seperti biji kopi yang telah disangrai. Serius.

“Kenapa namamu Bintang Timur? Apa karena kamu lahir di timur Indonesia?”

Bintang menatapku cukup intens. Jika wangi tubuhnya seperti biji kopi yang matang, maka matanya adalah biji kopi yang berwarna coklat. Matanya adalah hal pertama yang membuatku tertarik pada lelaki ini.

“Pertanyaanmu mengingatkanku saat kali pertama kita bertemu di sini. Ingat?”

Aku mengangguk.

“Lalu apa arti Astra Bellva?” Ia balik bertanya. Sangat Bintang sekali. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Kau masih menunggu pernyataan dari mulutku ketimbang mencarinya di internet?” tanyaku sambil mengerling padanya.

Dia mengangkat bahu. “Aku lahir saat ayahku bertugas di Maluku Tenggara. Entahlah apa ada hubungannya dengan Bintang Timur atau tidak.” Bintang terkekeh. “Mungkin kedua orangtuaku menyukai bintang timur. Atau bisa jadi karena Kejora atau Johar terlalu mainstream. Kautahu ‘kan kalau keduanya juga berarti bintang timur?”

Aku ikut terkekeh. Namanya sama uniknya dengan namaku. Dan aku senang akan itu. Karena selain nama unik, ada satu hal yang mungkin tak diketahui Bintang tentang nama kami.

“Tapi berkat nama ‘Timur’ ini aku jadi menyukai kopi-kopi yang tumbuh di daerah timur Indonesia. Eh, memang ada hubungannya, ya?” Dia menggaruk-garuk sebelah alisnya.

“Kopi Wamena?”

Ia mengangguk. “Selain kopi Wamena, ada kopi Toraja. Salah satu kopi terbaik di dunia. Apalagi kalau yang jenis Arabika Toraja Kalosi. Kamu tak perlu jauh-jauh ke Colombia atau Guatemala untuk menemukan cita rasa kopi arabika yang enak. Indonesia punya banyak! Kapan-kapan kamu harus pesan di sini. Apa kamu tak bosan tiap ke sini memesan menu yang sama terus menerus?” Bintang menunjuk gelas kopiku. “Caramel Macchiato?”

“Aku tak suka yang pahit-pahit,” kataku membela diri.

“Bukan kopi namanya kalau tak pahit, Astra.” Bintang menatapku dengan setengah kesal.

Aku hanya tertawa melihat ekspresinya.

“Beberapa kopi justru tak terlalu pahit saat masuk ke mulut. Serius, kamu harus mencoba menu kopi lain di sini—”

Percakapan yang sangat Bintang sekali. Apapun yang kami perbincangkan, semuanya akan berakhir dengan bahasan tentang kopi dari programmer satu ini.
*
I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes, there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you
I’ve seen the paths that your eyes wander down, I wanna come too
I think that possibly, maybe I’m falling for you*

Masih di kedai kopi yang sama. Aku masih memesan menu yang sama seperti sebelumnya. Caramel Macchiato. Lelaki di hadapanku dengan kopi Sidikalang-nya. Matanya masih seperti biji kopi dan aroma tubuhnya seperti kopi yang telah disangrai.

“Astra…,” panggilnya.

Aku mendongak menatap matanya. “Hmm?” Sebelah alisku terangkat. Ia menatapku serius.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Bintang Timur?”

Kurasakan wajahku memanas. Mungkin ekspresiku sekarang lebih parah dari yang kurasakan. Aku memang tak pernah menyembunyikan perasaanku pada Bintang. Bahkan dari caraku menatapnya, orang bisa menebak betapa aku mengagumi lelaki ini. Tapi ditanya seperti ini secara langsung olehnya, rasanya … entah.

Bintang mungkin mengerti rasa kaget dan kegugupanku. Ia tersenyum lembut. Senyum menenangkan khas Bintang. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku lalu berbisik, “Kalau begitu, kamu saja yang bertanya, apa yang membuatku jatuh cinta padamu, Astra….”

No one understands me quite like you do
Through all o the shadowy corners of me*

Aku merasa seperti anak remaja yang baru beranjak dewasa. Jantung berdebar saat bertemu lelaki pujaan hati. Wajah memerah. Oh, hal memalukan saat jatuh cinta ternyata juga melanda orang dewasa sepertiku.

Bintang menanti dengan sabar. Sialan lelaki ini, masih bisa santai menyesap kopi setelah membuatku setengah mati menahan malu seperti ini. Ingin rasanya masuk ke dalam kepalanya, mencari tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang setelah membuat anak gadis orang tak karuan.

Tuhan, jatuh cinta apakah senorak ini?

I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew*

Oke. Aku berusaha membuat tubuhku rileks dan sesantai mungkin. Saatnya membalikkan keadaan, Astra. “Bintang—”

Ia menaikkan sebelah alisnya. Ada sedikit binar di mata itu. Aku melihat pantulan wajahku di matanya.

“Jadi….” Kutopangkan dagu di kedua tanganku. “Aku menyukai Bintang Timur si penggila kopi, yang tubuhnya beraroma kopi, dan matanya seperti biji kopi. Aku menyukai segala yang sangat Bintang sekali. Bintang yang senang menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, yang terkadang cerewet dan seringkali cuek, yang sering memberi materi singkat tentang kopi, dan Bintang yang selalu menatap Astra dengan hangat.” Kulihat makin banyak binar di matanya. Sayangnya, Bintang sangat pandai menguasai diri. Wajahnya tak terlihat malu-malu. Justru kulihat ekspresi puas di wajah dengan rahang tegas itu.

“Lalu?” Ia memancingku.

Tanganku bergerak menyentuh cangkir kopinya. Aku menyesapnya sekali. Pahit, tapi ada sesuatu yang menyenangkan saat masuk ke mulutku. Pahitnya langsung hilang. Aku lalu menatap matanya selama beberapa detik. “Lalu … apa yang membuatmu jatuh cinta pada Astra Bellva?”

Kini gantian ia yang mengambil gelas kopiku lalu menyesapnya. “Hmmm, ini tak terlalu buruk,” katanya. Ia mengedipkan mata ke arahku. “Kamu perempuan pertama yang tak pernah mengeluh bosan apalagi menampakkan wajah bosan saat kuajak bertemu di tempat yang sama—” Ia berhenti sejenak, memandang sekeliling ke kedai kopi ini. “Selama hampir dua tahun.” Ia terkekeh. “Kalau aku sudah puas dengan semua menu di kedai ini, mungkin kita bisa ganti tempat kencan,” kelakarnya.

Aku masih terpaku—mungkin dengan ekspresi yang lebih memalukan dari yang sebelumnya.

Bintang tersenyum tipis. “Apa kamu tahu kalau matamu tak kalah indah dengan definisi yang baru saja kauberikan padaku? Dan sebenarnya, aku tak butuh alasan untuk jatuh cinta padamu, Astra. Apa yang ada pada dirimu sudah cukup jadi alasan untuk membuat seorang Bintang Timur jatuh cinta….”

Because, oh, because I’ve fallen quite hard over over you… *

“Lalu kapan kau akan melamarku?” candaku, setengah jam setelah ‘masa-masa mendebarkan’ tadi lewat.

Bintang terbahak. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari tas hitamnya. Sebuah stoples bening berukuran kecil yang disodorkan padaku. Isinya biji-biji kopi. “Setelah kauberitahu arti nama Astra Bellva.” Ia memberi kode dengan matanya ke sesuatu di dalam stoples yang kini kupegang.

Sebuah cincin di antar biji-biji kopi. Tuhan….

Bintang, sekali lagi dengan ekspresi yang tak terpengaruh dengan apa yang baru saja ia lakukan, mengerling padaku. “Jadi, beritahu aku arti namamu….”

Aku tersenyum sambil mengguncang pelan stoples di tanganku. “Ibuku penyuka mitologi dan hal-hal yang berbau Yunani kuno. Bellva artinya pemandangan indah. Dan sepertinya arti nama itu sangat cocok untukku, setelah mendengar penjelasanmu tadi.” Aku balas mengerling padanya.

Dia hanya terbahak.

“Lalu kata Ibu, dia entah membaca di mana dulu, nama Astra lebih cocok untuk nama anak perempuan … yang dalam bahasa Gerika, Yunani berarti—” Aku sengaja membuatnya menunggu.

“Berarti?” tanyanya tak sabar.

“Bintang.”

Kali ini aku berhasil membuat Bintang terdiam dengan wajah sedikit bersemu. Kulihat percik binar di matanya. Masih ada aku di dalamnya.

Di belakang kami, Falling in Love at a Coffee Shop masih mengalun, entah sudah keberapa kalinya.
**

* Lirik lagu Falling in Love at a Coffee Shop – Landon Pigg

Catatan tambahan: Cerpen ini pernah diikutkan dalam Lelang Buku Bayar Karya bulan September di grup WA Love Books A Lot ID. Selamat menikmati. ^^

Iklan

#30HariMenulisCerita : Hari Kedua – Tentang Kenangan Ibu yang Dibawa Hujan

Teta menatap sisa-sisa hujan yang masih menggenang di teras depan rumahnya. Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini bisa saja menjadi puisi atau lirik lagu. Tapi tidak untuk perempuan dengan rambut hitam sebahu itu. Baginya, hujan membawa kenangan buruk beberapa tahun silam.

Teta sama sekali tak membenci hujan atau anti terkena hujan.

Bukan hujannya.

Hanya saja kenangan yang dibawa hujan yang masih saja sering menusuk-nusuk perasaannya. Rasanya seperti mencoba menghindari sesuatu yang pasti.

Rintik hujan mengingatkan Teta pada rasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum pada bagian perutnya. Genangan yang ditimbulkan hujan mengingatkan pada air mata Ibu saat Teta berumur enam tahun. Waktu itu Teta juga sering menangis. Apalagi saat perutnya melilit kelaparan.

Dan Ibu tak bisa memberinya apa-apa selain air mata yang terus mengalir dari kedua mata sayunya.

“Aku pernah merasakan lapar yang benar-benar lapar, Ajam.”

Ajam balas menatap Teta. Dia hapal betul kebiasaan perempuannya ini saat mereka ‘menikmati’ momen hujan turun.

“Waktu itu aku dan Ibu belum makan dua hari setelah kami diusir dari rumah keluarga almarhum Ayah….” Teta tersenyum masam.

“Kau menangis karena perutmu sakit?” tebak Ajam.

Teta mengangguk. Ajam menangkap luka di mata indah Teta tiap ia bercerita tentang kenangannya tentang hujan.

“Saat aku mulai menangis, Ibu akan ikut menangis. Kau tahu, aku tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Ibu saat itu. Bahkan sampai sekarang, aku tak tahu apa yang di pikirkan Ibu ketika ia masuk ke toko kelontong dan mencoba mencuri roti… untuk mengganjal perut kami.

“Waktu itu hujan turun… sangat deras, Ajam….”

“Teta….”

Arteta menggeleng. “Aku tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tiap kali aku bercerita tentang kejadian itu, aku pasti tak sanggup menyelesaikannya. Kau tentunya penasaran kelanjutannya ‘kan?”

Ajam memang penasaran. Sudah puluhan kali ia mendengar cerita yang sama dari bibir kekasihnya. Tapi cerita yang sama selalu berakhir di bagian saat ibunya mencuri roti. Setelah itu, Teta akan menangis dan Ajam tak tega memintanya melanjutkan cerita.

“Ibu mungkin benar-benar tak punya uang sampai harus mencuri dua bungkus roti saat itu…. dan kami ketahuan oleh pemilik toko.

“Beruntung, pemilik toko tak melaporkan kami ke polisi. Hanya saja ia mengajukan syarat yang kelak akan mengubah jalan hidupku…” Mata Teta mulai berkaca-kaca.

Ajam menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Teta, berharap genggamannya bisa mengalirkan kekuatan.

“Sejak hari itu aku harus berpisah dengan Ibu… Pemilik toko membawaku ke panti asuhan sedangkan Ibu dibawa pergi bersamanya. Kalau Ibu menolak, pemilik toko mengancam akan melaporkan kami berdua ke kantor polisi. Selama dua bulan di panti asuhan kerjaanku hanya menangis mencari Ibu. Bulan keenam aku di panti, ada sebuah keluarga yang mengadopsiku. Ya, mereka keluargaku yang sekarang….”

Ajam cukup terkejut dengan cerita Teta. Ia baru tahu kebenarannya. Ia baru tahu kalau orang tua perempuan yang disayanginya itu ternyata bukanlah orang tua kandungnya.

“Aku pernah mencari Ibu di tempat terakhir kali kami dipisahkan. Sayangnya ruko itu telah dijual. Aku kehilangan jejak Ibu. Aku bahkan mengunjungi rumah keluarga Almarhum Ayah. Tapi mereka yang memang sejak aku masih di dalam kandungan sangat membenci aku dan Ibu, tak mau mengakuiku dan kembali mengusirku.” Kali ini air mata menetes di pipi Teta.

“Beruntung orang tua angkatmu adalah orang yang sangat baik.” Ajam meremas tangan Teta.

Perempuan bergigi gingsul itu tersenyum sambil mengangguk pelan. “Mereka sangat baik. Aku diasuh seperti anak kandung mereka.”

“Apakah kamu masih mau mencari Ibu kandungmu? Aku bisa membantu kalau memang–”

“Aku sudah menemukannya, Ajam.” Teta memandang Ajam lekat. Cara pandang yang menurut Ajam penuh dengan kesedihan, luka, dan amarah sekaligus.

“Oh, ya? Syukurlah… Bagaimana keadaannya?” Ajam terlihat senang.

Teta memaksakan diri untuk tersenyum. “Setelah enam belas tahun berpisah dengannya, akhirnya aku menemukannya beberapa hari lalu… aku masih ingat betul wajah ibuku, meski rambut dan wajahnya sudah menua.”

“Di mana sekarang ibumu tinggal? Apa dia baik-baik saja?”

“Ibuku… telah menjadi istri pemilik toko tempat ia mencuri roti waktu itu. Setahun setelah aku dibawa ke panti asuhan.”

Tanpa sadar Ajam mengembuskan napas lega.

Teta masih menatap mata kekasihnya. Mencari adakah celah untuknya kini bahagia dengan lelakinya?

“Ajam….”

“Hmm….”

“Ibuku… aku menemukannya di rumahmu saat kau membawaku bertemu kedua orang tuamu,” kata Teta dengan suara tercekat. “Ibuku… adalah istri ayahmu, Ajam.”

**
image

-dhilayaumil-
#30HariMenulisCerita #Day2

#30HariMenulisCerita : Hari Pertama – Tentang Mimpi yang Tak Punya Arti Apa-apa

Pukul 05.30 pagi. Teta terduduk di tepi tempat tidurnya. Mimpi yang barusan ia alami masih menari-nari di kepalanya.

Ia bertemu Ozan, teman kelasnya saat SD, dua puluh tahun yang lalu. Ia hapal betul wajah Ozan. Di mimpi, ia tiba-tiba mengenal Ozan dan menyapanya. Sayangnya, Ozan belum mengenalinya.

“Saya Teta, teman SD-mu dulu. Kamu lupa?”

“Oh, Teta. Ya, saya ingat punya teman bernama Teta. Tapi kamu kini banyak berubah.”

Lalu seorang anak lelaki menarik ujung kaos Ozan. Wajahnya mengingatkan Teta pada Ozan dua puluh tahun yang lalu.

“Dia anakku.”

Dari penampilan Ozan dan anaknya di mimpi, Teta menebak kalau teman masa kecilnya itu cukup sukses.

Lalu tiba-tiba muncul Winta, teman SMP Teta. Winta sedang bersama seorang lelaki yang tak Teta kenal. Dalam mimpi Teta, Winta hanya tersenyum lalu berjalan menuju tempat saat tadi Teta bertemu Ozan.

…dan tiba-tiba bunyi alarm menjauhkan Teta dari mimpinya.

Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mereka berdua.

Teta terakhir bertemu Ozan saat upacara kelulusan SD. Setelah itu ia hanya sempat melihat Ozan di dunia maya, dalam satu profil akunnya di media sosial. Lalu Winta, mereka bertemu terakhir dua tahun lalu, saat aqiqahan anak keduanya.

Lalu kenapa tiba-tiba aku memimpikan keduanya?

*

Hai, Win. Ini Teta. Inget enggak?
Pesan terkirim.

Hai Teta. Kok baru ngehubungin, sih? Kamu ganti nomor, ya? Pantas nomor lamamu aku hubungi gak nyambung-nyambung.

Hahaha. Iya, maaf aku lupa ngabarin. Kamu apa kabar? Anakmu sehat-sehat?
Pesan terkirim.

Alhamdulillah sehat, yang kedua udah bisa gaya-gayaan. Eh, mumpung kamu akhirnya berhasil dihubungi nih, aku mau ngundang minggu depan datang ke rumah ya. Kamu masih hapal alamat rumahku kan?

Ada acara apa nih? Anakmu ulang tahun?
Pesan terkirim.

Aqiqahan anak ketigaku. 🙂

*

“Orang tua zaman sekarang kok pada jahat-jahat, ya. Hih!”

Teta tersenyum menatap Raina, teman kantornya, yang sedang ngomel-ngomel sambil menonton tv di kantin kantor.

“Masa tega-teganya bunuh anak sendiri. Anak imut begitu, gak ada dosa, masa dibunuh dengan keji sih. Mending anaknya dikasih ke orang tua yang mau rawat kalau gak sanggup rawat!”

Teta berpaling ke arah tv yang sejak tadi dia tak acuhkan. Ada berita tentang pembunuhan keji seorang anak kecil. Pembunuhnya sendiri diduga adalah orang tua angkat korban.

Ia lalu teringat mimpinya satu bulan lalu.

Pelaku O sudah diamankan pihak berwajib. Jenazah A sendiri akan dimakamkan besok di TPU….

Napas Teta tercekat. Meski wajah pelaku di tv sudah di-bluur, tapi foto korban sempat ditampilkan sebentar sebelum di-bluur kembali.

Teta tak bisa melupakan wajah Ozan kecil dua puluh tahun lalu.

Persis wajah korban pembunuhan oleh orang tuanya yang baru saja ia tonton.
**

-dhilayaumil-

#30HariMenulisCerita #Day1

[Cerpen] Tentang Cinta Pandangan Pertama dan yang Kadaluarsa

Arteta tak percaya cinta pada pandangan pertama. Menurutnya cinta tak dibangun dari pertemuan pertama. Pandangan pertama adalah kesan. Selanjutnya baru bisa dipastikan apakah seseorang bisa jatuh cinta atau malah tak peduli. Setidaknya itu yang bisa ia simpulkan sampai saat ini.

“Hah, kau ini. Jadi kapan kau akan jatuh cinta?”

Perempuan itu menggeleng pelan. “Tak tahu, Jam. Mungkin lusa, sebulan, setahun, atau mungkin lima tahun lagi? Entahlah. Aku belum kepikiran.”

Ajam berdecak. Sahabatnya ini memang susah ditebak. Pikirannya ruwet kayak benang kusut. Tapi kadang-kadang bisa mengeluarkan pernyataan yang bikin Ajam kagum padanya.

“Kamu percaya cinta pada pandangan pertama, Jam?” Teta balik bertanya.

“Hmmm… sepertinya enggak. Eh, tapi, enggak tau deh. Aku belum pernah ketemu perempuan yang saat ketemu pertama kali sudah bikin aku deg-degan atau merasa ‘ini nih cewek idamanku’.”

Teta tersenyum.

“Apa cinta bisa hadir karena terbiasa, ya? Sering sama-sama, sering ngobrol, sering jalan sama-sama….”

“Tidak semua, Jam. Kalau cinta kayak gitu, mungkin kita berdua sudah saling jatuh cinta. Hahaha–”

Ajam menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Iya, sih. Berarti cinta itu … rahasia Tuhan. Hakhakhak.”

*

“Apa cinta punya masa kadaluarsa juga?” tanya Ajam pada suatu sore.

“Mungkin, Jam.” Mata perempuan beralis tebal itu menerawang. Menatap kosong pada hamparan kembang sepatu di halaman rumah Ajam.

“Mungkin?”

Teta mengangguk. “Mungkin cinta punya masa kadaluarsanya, mungkin juga tidak. Mama dan papaku berpisah mungkin karena sudah tak ada cinta lagi dalam diri mereka untuk satu sama lain. Cinta mereka sudah kadaluarsa.” Ada nada sedih dalam suara Teta.

“Tapi cinta mereka ke kamu ‘kan tidak akan kadaluarsa. Hehehe–”

Teta mengangguk. “Itulah hubungan cinta yang dibangun oleh darah, Ajam.” Teta mengerling pada sahabatnya itu.

“Apa hubungan persahabatan kita punya masa kadaluarsa juga?” Ajam memandang lekat perempuan yang sejak kecil sudah sangat dekat dengannya itu.

Teta mendelik. Ia lalu merengkuh lengan kiri Ajam, memeluknya erat. “Jangan sampai, Ajam. Aku sayang sama kamu dan aku enggak mau suatu hari nanti kita pisah, hubungan kita renggang, dan aku enggak punya Ajam buat tempat aku ngapa-ngapain lagi….”

Ajam mengacak rambut Teta. “Berarti rasa sayang yang kita bangun tak punya masa kadaluarsa. Iya kan?”

Teta mengangguk. “Janji kamu enggak akan ke mana-mana kan?”

“Aku di sini. Emang mau ke mana? Dasar, manja!”

Teta makin mempererat pelukan di lengan Ajam.

*

Teta bangun dengan perasaan kosong. Matanya sembab. Semalam ia mimpi buruk. Mimpi Ajam pergi meninggalkannya ke suatu kota tanpa sekali pun memberi kabar pada Teta. Dalam mimpinya ia menangis. Jika ada kata untuk menggambarkan perasaan di atas rasa sakit, mungkin itu yang ia rasakan.

Tanpa sadar ia mengambil ponsel di dekat bantalnya, lalu menghubungi nomor Ajam. “Sudah bangun?”

“Iya dong, ini baru mau mandi trus siap-siap ke kantor. Ada apa?”

Teta menggeleng. Ada yang menggenang di sudut matanya. “Enggak apa-apa. Cuma kangen denger suara kamu yang baru bangun.”

Terdengar Ajam terkekeh. “Dasar manja! Enggak bisa, ya, sehari enggak denger suara sahabatmu yang keren ini? Hahaha.”

Dalam kondisi biasa mungkin Teta akan mengumpat pada Ajam, tapi tidak dengan mimpi yang barusan ia dapatkan. “Enggak, Jam. Jangan suruh aku bayangin. Kita sarapan bareng yuk nanti!” Lalu Teta mengakhiri obrolan.

Teta tepekur. Ia menghapus bekas air mata di wajahnya. Mimpi tadi sungguh menyakitkan.

**

-dhilayaumil-

#BGANia : Bahagia Itu Sederhana

Se-sederhana pelukan Ibu…
Se-sederhana bercanda bersama sahabat…
Se-sederhana mendengar suaranya di telepon…
Se-sederhana mengetahui dia baik-baik saja…
Se-sederhana tertawa bersama…
Se-sederhana saat kau bilang, “Semua akan baik-baik saja, Dhila…”

Bahagia itu kamu yang menentukan. Bukan orang lain. Bukan aku. Bahagia itu tidak dicari, tapi kauciptakan.

Seseorang selalu berkata itu pada saya. Bukan. Bahkan banyak yang bilang itu padaku. Sahabat-sahabat, buku-buku yang saya baca, kutipan-kutipan, bahkan senyum Ibu juga bilang soal itu.

Bahagia bukan berarti tidak punya masalah. Bahagia bukan berarti tak punya keluhan. Bahagia bukan berarti tak punya kesedihan. Siapa sangka saat menulis ini, 19 Agustus 2014, saya sedang mengalami kesedihan. Sedih yang menyesakkan.

Kau boleh bersedih, tapi jangan menghancurkan dirimu.

Kalimat dari seorang–yang saya paksa menjadi–sahabat sekaligus kakak itu menjadi semacam kekuatan buat saya. Tiap kali saya bersedih, tiap saya menangis, tiap saya merasa terpuruk, saya selalu melafal ‘mantra’ itu dalam hati. Dia dan juga orang-orang yang saya sayangi selalu meyakinkan saya bahwa seharusnya tak ada alasan bagi saya untuk bersedih lama-lama.

Saya–kita–punya Tuhan yang tak pernah tidur, yang selalu siap mendengar apapun curhatan yang ditujukan kepada-Nya. Saya punya dia yang selalu siap mendengarkan saya bagaimanapun kondisi fisik dan mental saya. Saya punya sahabat-sahabat yang tulus menyayangi saya. Mereka membuat saya menjadi mengerti apa arti ‘bahagia itu sederhana’.

Bahagia itu bersyukur.

Bersyukur saya diberi cobaan oleh-Nya.
Bersyukur saya masih diberi masalah sehingga masih bisa berkata ke masalah bahwa, saya punya Tuhan yang lebih besar dari masalah itu sendiri.
Bersyukur saya diberi keluarga dan sahabat yang baik dan tulus.
Bersyukur bahwa setiap air mata, berteman dengan senyum kebahagiaan.

Saat menulis ini saya memang sedang bersedih. Saya tak mau membagi kesedihan saya kepada kalian, terlalu drama nantinya. Tapi boleh saya meminta, tolong doakan saya kuat dan tak lari. Saya ingin menghadapi masalah itu. Saya ingin seseorang bangga kepada saya. :’)

Kemarin ada yang berkata begini pada saya, “Kak Dhil, ajari aku bahagia dong…”
Saya menjawab, “Bahagia itu tidak pakai rumus atau teori apapun. Standar bahagiaku denganmu beda. Tentukan sendiri bahagiamu.”

Bulan Agustus ini, saya mendapat banyak kebahagiaan–yang tak mungkin semua saya tulis di sini. :p

Saya bertemu dengan sahabat-sahabat dari SMP yang setahun lebih tak saya temui. Salah satu dari mereka tahu-tahu sudah melahirkan anak kedua.

image

🙂

image

Ini dedek Farid

Saya mendapat kado buku dari ‘kembaran’ saya yang sedang berada di luar negeri.

image

Sebagian kejutan buku bulan Agustus

Saya bisa merasakan pelukan Ibu lebih lama dan lebih banyak dari belakangan ini.

image

Mirip gak sama Ibu? 😀

…dan saya masih bisa merasakan rindu pada seseorang yang sedang diam di sana. That’s so simple. :’)

Sesederhana itu bahagiaku.
Bagaimana denganmu?

Hei, don’t forget to be happy, yess! ^^

-dhilayaumil-

*Tulisan ini diikutsertakan di dalam lomba #BGANia yang diadakan di sini