[Sastra Kepo] Tentang Idha, Istriku

Namanya Idha. Bulan depan dia berumur sembilan belas tahun, dua tahun di atasku. Wajahnya cantik dan polos, khas perempuan desa. Dia anak kepala desa.

Dan dia istriku.

Kami menikah dua tahun lalu, saat umurku lima belas tahun dan dia tujuh belas tahun. Kami dijodohkan dan saling jatuh cinta sejak malam pertama kami. Anak kami lahir dua belas bulan setelah pernikahan.

Di desa kami, menikah di usia muda adalah hal yang biasa. Umur 20-an bahkan sudah ada yang menjanda. Justru jika umur 20 belum menikah bisa jadi bahan gunjingan ibu-ibu.

“Bulan depan Dahlia akan menikah lagi, Daeng. Dengan duda satu anak.” Idha berkata sambil menyelimuti Amal, anak tunggal kami.

Dahlia adalah kakak sepupu Idha. Akan menikah untuk ketiga kalinya bulan depan.

Aku hanya mengangguk kecil. Setelah itu kami keluar kamar menuju ruang keluarga, biasanya sekadar nonton tv atau bercengkrama dengan kedua mertuaku. Saat ini kedua mertuaku sedang menghadiri acara di kecamatan.

Ya, aku tinggal dengan kedua orang tua Idha. Rumah orang tuaku hanya berjarak 15 menit dari sini. Istriku anak perempuan satu-satunya dan kedua orang tuanya belum mau melepas anak mereka.

Tiap hari aku ke rumah orang tuaku, mengelola bengkel yang kubangun dengan modal pinjaman orang tua setelah aku menikah. Penghasilan bengkel cukup lumayan. Di kabupaten ini pemuda-pemudanya memiliki hobi balap motor, baik balapan resmi atau balap liar. Motor-motor di sini jarang lagi yang memiliki bentuk asli keluaran showroom motor.

Sebelum menikah aku adalah salah satu pembalap kebanggaan kota ini. Umurku memang masih muda, tapi kemampuanku menguasai jalanan belum ada yang bisa menandingi. Setelah menikah aku memilih pensiun dan membuka bengkel untuk pemuda-pemuda yang mau mengotak-atik motornya.

Daeng, saya ingin sekolah sastra di Makassar.” Tiba-tiba Idha berbisik di telingaku.

Aku memandangnya lembut. Sudah sejak hamil setahun lalu dia pernah mengutarakan impiannya untuk sekolah dalam bidang sastra. Sejak SMP dia sangat suka membaca buku-buku sastra dan dia juga pandai membuat cerita.

“Saya sebenarnya tidak apa-apa kamu mau sekolah lagi, Andi’. Tapi kamu tahu sendiri Mamak pasti tidak mengizinkan. Anak kita masih kecil dan nanti apa kata tetangga? Perempuan di desa ini paling tinggi jadi bidan atau pegawai kelurahan. Apa yang mau kaukerjakan kalau lulus sekolah sastra?”

Dia tertunduk. Tak berani atau mungkin tak tahu akan menjawab apa. Aku tahu dia sangat sedih tak bisa meraih impiannya.

Dia memeluk erat buku yang sedang dibacanya. Perempuan karya Mochtar Lubis. Istriku ini sangat rajin membaca buku saat-saat lengang di rumah. Setelah pekerjaan rumah telah selesai, termasuk menidurkan bocah kami, dia akan duduk-duduk di beranda sambil membaca buku-buku sastra.

“Apakah perempuan di buku itu juga sekolah tinggi-tinggi, Andi’?” tanyaku sambil merangkulnya.

Dia mengangguk. “Bahkan sampai ke luar negeri, Daeng. Tapi ada juga yang menjadi gila.”

“Tapi kau tak akan menjadi gila hanya karena tak bisa sekolah sastra ‘kan?” Aku tersenyum menggoda.

Dia tertawa sambil menggeleng, memunculkan lesung di kedua pipinya. Istriku adalah perempuan penurut yang sangat cantik. Dia pernah bilang, hidupnya hanya untuk kedua orang tua, suami dan anaknya. Impian utamanya adalah membahagiakan kami.

Maka dari itu dia rela mengubur mimpinya bahkan di umur yang masih sangat muda.

Daeng, minggu depan saya diajak Aminah ke perpustakaan. Katanya di sana ada banyak buku sastra. Bolehkah?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk. “Boleh. Nanti Amal titip di rumah Ibu saja. Dekat dari perpustakaan. Kalau pulang kamu bisa jemput lagi.”

Idha tersenyum senang.

*

Lalu, ke perpustakaan adalah agenda rutin Idha setiap pekan. Dia semakin banyak membaca buku, tapi kerjaannya tak pernah ditinggalkan. Dia tetap menjadi anak perempuan kedua orang tuanya. Menjadi istri dan ibu yang baik.

Dia semakin bahagia.

Awalnya mertuaku sempat protes karena Idha sering ke perpustakaan. Mereka takut anaknya makin lama makin gila membaca dan nekat untuk kuliah di kota. Aku ditekan-tekan untuk melarang istriku ke perpustakaan.

“Biarlah, Mak. Saya juga ingin membahagiakan Idha. Toh dia tetap mengerjakan kewajibannya sebagai istri dan ibu buat Amal.”

Aku menangkap kekhawatiran di wajah mertuaku. “Kau tidak tahu, Nak, di sana dia melakukan apa saja. Bertemu siapa saja. Nanti lama-lama dia bisa melawanmu dan minta sekolah ke kota.”

Aku paham ketakutan-ketakutan ibu mertuaku. Tak jarang teman-temanku yang sering datang ke bengkel mengingatkan untuk menjaga istriku. Mertuaku pun pasti sering mendengar gunjingan tetangga.

‘Kamu tak takut istrimu ketemu laki-laki di sana?

‘Dia bikin apa seharian di perpustakaan?

‘Kau tak berniat menemaninya di perpustakaan sana?

‘Untuk perempuan yang sudah bersuami, tempatnya di dapur, kasur, dan sumur. Bukan di perpustakaan….’

Dan banyak pertanyaan dan pernyataan lainnya.

Idha tak merasa terganggu dengan itu semua, maka dari itu aku tak punya alasan untuk mendengarkan kata orang. Yang terpenting istriku bahagia, sebab apa yang sudah dia korbankan sebagai istri sudah lebih dari cukup. Aku tak mau merampas bagian dari impiaannya yang tersisa.

*

Idha hamil lagi saat usia perkawinan kami memasuki tahun keempat. Dia masih sering ke perpustakaan saat hamil muda, bahkan kadang membawa Amal. Aku hanya bisa mengantar dan menjemputnya, sebab aku masih harus kembali ke bengkel.

Keluargaku dan keluarga Idha sangat bahagia menanti kelahiran anak kedua kami.

Sampai usia kehamilan Idha yang ketujuh, dia kabur bersama buku-bukunya dan meninggalkan sepucuk surat.

Anak yang dia kandung adalah anak Raudi, penjaga perpustakaan yang sering dia datangi. Idha akan melahirkan dan melanjutkan kuliah sastra di salah satu kota entah di pulau mana.

Dia menitipkan Amal dan satu buah buku yang pernah dia ceritakan isinya padaku.

Juga menitipkan penderitaan bagi keluarga kami. Sebab, tiga bulan kemudian ibunya meninggal dunia karena tak tahan menanggung kesedihan dan malu dengan omongan orang.

Idha, istriku yang cantik dan penurut. Memilih melanjutkan mimpi masa SMP-nya dulu dan tetap menjadi istri dan ibu.

Tapi bukan buat aku dan Amal.

-dhilayaumil-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s