[Cerpen] Tentang Utang yang (belum) Lunas

Lelaki tua itu datang saat jam tua di dinding rumahmu menunjukkan angka sembilan lewat lima malam. Dia masuk tanpa salam apalagi senyum ramah.

“Utangmu sudah jatuh tempo, Herman. Serahkan sekarang, dua juta dengan bunga.” Dia memelintir kumis putihnya.

Istri dan kedua anak perempuanmu diam di sudut ruangan kecil yang kalian sebut rumah ini. Teta, anak bungsumu yang berumur 8 tahun memeluk ibunya sambil sesekali melirik lelaki itu. Salsa, si putri sulung yang jika masih sekolah, kini ia telah duduk di bangku kelas 2 SMP, menatap lelaki itu dengan ketakutan.

“Tak bisakah kauberi aku waktu, Karmin? Aku belum punya uang…,” suaramu terdengar mengiba.

Karmin tersenyum mengejek. “Bukankah yang selama ini kuberikan adalah waktu? Heh?! Cepat bayar utangmu!” Suaranya menggelegar hingga si bungsu makin mempererat pelukannya pada istrimu.

“Tolonglah, Karmin… Aku belum punya uang untuk membayar utang-utangku. Lagipula bunga yang kauberikan sangat tinggi.”

Karmin kini melotot. “Harusnya kaupikirkankan itu sebelum kau meminjam uang! Pokoknya aku tak mau tau! Bayar utangmu sekarang, Herman, atau….” Kaulihat lelaki tua itu menyeringai. Matanya kini beralih pada Mina, istrimu.

Wajahmu merah padam. Kau kini sungguh marah. “Jangan macam-macam! Jangan sentuh istriku!”

“Hahaha. Baiklah. Kuberi waktu seminggu lagi. Lunasi utangmu atau rumah beserta istri dan dua anak perempuanmu berpindah ke tanganku….” Karmin berkata lalu tertawa kurang ajar. Dia berlalu dari rumahmu tanpa berkata apa-apa lagi.

Tanganmu terkepal menahan amarah. Kau melirik istrimu yang kini sudah berkaca-kaca.

**

“Mas, bagaimana kita membayar si Karmin? Kita tak punya apa-apa lagi untuk ditukar dengan uang….” Istrimu menatap dengan nanar.

Kau mengembuskan napas pelan. Kau pun bingung bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu kurang dari tiga hari lagi?

Lalu anakmu yang paling kecil datang mendekat, meminta dipangku olehmu.

“Pak, Teta lapar….”

Kau mengusap kepalanya lembut. “Teta mau makan apa? Tadi sepertinya ada nasi sama ikan kering di dalam….”

Anakmu menggeleng. “Teta tidak mau ikan kering, Pak. Tenggorokan Teta sakit tiap hari makan nasi keras sama ikan kering. Teta mau makan ayam goreng, Pak… Teta mau makan daging….”

Lalu Salsa mendekat, duduk di samping istrimu.

“Salsa juga ndak mau tinggal sama Pak Tua Karmin. Salsa takut liat matanya. Matanya seram tiap liat Salsa, Pak….”

Tanganmu terkepal. Dalam hati kau sangat marah. Sangat marah pada lintah darat tua yang tanpa persetujuan sudah menaikkan bunga pinjaman sangat tinggi.

“Bu, Pak… kalian pernah makan daging ayam? Atau daging sapi? Kata Lila, dia pernah lebaran tahun lalu makan daging, dibawakan ayahnya saat malam takbiran. Rasanya sungguh enak.” Teta memandang polos bergantian kepadamu dan istrimu.

Lalu tiba-tiba pikiran gila terlintas di otakmu. Kau menurunkan Teta dari pangkuanmu. Kau pamit pada istri dan kedua anakmu.

Kau berjalan ke rumah Karmin dengan perasaan marah. Di balik sarungmu terselip parang yang biasa kaugunakan untuk memotong kayu di hutan.

Kau tak punya pilihan lain. Kau menunggu hingga suasana sekitar sepi. Pukul satu malam kau diam-diam masuk ke rumah Karmin. Rentenir tua itu sedang tidur di sofa merah di depan tv-nya.

“Kau tinggal sendiri sejak istrimu meninggal, tak punya anak. Lalu mengapa kau rakus uang, Karmin? Mengapa kau menaikkan bunga begitu tinggi untuk kami yang miskin ini?” Kau berbisik di depan tubuh tua yang terlelap itu. Napasmu naik turun.

Kau menyeringai jahat. Persis seringai Karmin beberapa hari lalu saat ke rumahmu. Parang kau keluarkan dari balik sarungmu.

Lalu semuanya terjadi.

**

Kau menatap wajah Teta yang ceria. Dia makan dengan sangat lahap.

“Gimana rasanya, Nak?”

“Enak, Pak. Daging ini sangat enak! Teta akhirnya bisa merasakan makan daging.” Teta mengunyah dengan riang.

Kau tersenyum. Akhirnya kau bisa memenuhi keinginan kedua anakmu.

Semalam kau pulang dengan kantong plastik berisi daging segar yang telah dipotong-potong kecil. Kauberikan pada istrimu untuk dimasak besok. Istrimu menurut meskipun dia ingin tahu darimana kau peroleh daging yang masih segar itu.

“Pak, dari mana Bapak mendapatkan daging itu? Bukankah kita tak punya uang?” Salsa bertanya sambil mengunyah.

Kau menatapnya sambil tersenyum samar. Matamu menatap satu per satu bidadari-mu. Mata yang kini berbeda.

“Itu pemberian dari Karmin, Nak. Makanlah… dan dia pun tak akan mengganggumu lagi…”

-dhilayaumil-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s