#30HariMenulisCerita : Hari Pertama – Tentang Mimpi yang Tak Punya Arti Apa-apa

Pukul 05.30 pagi. Teta terduduk di tepi tempat tidurnya. Mimpi yang barusan ia alami masih menari-nari di kepalanya.

Ia bertemu Ozan, teman kelasnya saat SD, dua puluh tahun yang lalu. Ia hapal betul wajah Ozan. Di mimpi, ia tiba-tiba mengenal Ozan dan menyapanya. Sayangnya, Ozan belum mengenalinya.

“Saya Teta, teman SD-mu dulu. Kamu lupa?”

“Oh, Teta. Ya, saya ingat punya teman bernama Teta. Tapi kamu kini banyak berubah.”

Lalu seorang anak lelaki menarik ujung kaos Ozan. Wajahnya mengingatkan Teta pada Ozan dua puluh tahun yang lalu.

“Dia anakku.”

Dari penampilan Ozan dan anaknya di mimpi, Teta menebak kalau teman masa kecilnya itu cukup sukses.

Lalu tiba-tiba muncul Winta, teman SMP Teta. Winta sedang bersama seorang lelaki yang tak Teta kenal. Dalam mimpi Teta, Winta hanya tersenyum lalu berjalan menuju tempat saat tadi Teta bertemu Ozan.

…dan tiba-tiba bunyi alarm menjauhkan Teta dari mimpinya.

Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mereka berdua.

Teta terakhir bertemu Ozan saat upacara kelulusan SD. Setelah itu ia hanya sempat melihat Ozan di dunia maya, dalam satu profil akunnya di media sosial. Lalu Winta, mereka bertemu terakhir dua tahun lalu, saat aqiqahan anak keduanya.

Lalu kenapa tiba-tiba aku memimpikan keduanya?

*

Hai, Win. Ini Teta. Inget enggak?
Pesan terkirim.

Hai Teta. Kok baru ngehubungin, sih? Kamu ganti nomor, ya? Pantas nomor lamamu aku hubungi gak nyambung-nyambung.

Hahaha. Iya, maaf aku lupa ngabarin. Kamu apa kabar? Anakmu sehat-sehat?
Pesan terkirim.

Alhamdulillah sehat, yang kedua udah bisa gaya-gayaan. Eh, mumpung kamu akhirnya berhasil dihubungi nih, aku mau ngundang minggu depan datang ke rumah ya. Kamu masih hapal alamat rumahku kan?

Ada acara apa nih? Anakmu ulang tahun?
Pesan terkirim.

Aqiqahan anak ketigaku. 🙂

*

“Orang tua zaman sekarang kok pada jahat-jahat, ya. Hih!”

Teta tersenyum menatap Raina, teman kantornya, yang sedang ngomel-ngomel sambil menonton tv di kantin kantor.

“Masa tega-teganya bunuh anak sendiri. Anak imut begitu, gak ada dosa, masa dibunuh dengan keji sih. Mending anaknya dikasih ke orang tua yang mau rawat kalau gak sanggup rawat!”

Teta berpaling ke arah tv yang sejak tadi dia tak acuhkan. Ada berita tentang pembunuhan keji seorang anak kecil. Pembunuhnya sendiri diduga adalah orang tua angkat korban.

Ia lalu teringat mimpinya satu bulan lalu.

Pelaku O sudah diamankan pihak berwajib. Jenazah A sendiri akan dimakamkan besok di TPU….

Napas Teta tercekat. Meski wajah pelaku di tv sudah di-bluur, tapi foto korban sempat ditampilkan sebentar sebelum di-bluur kembali.

Teta tak bisa melupakan wajah Ozan kecil dua puluh tahun lalu.

Persis wajah korban pembunuhan oleh orang tuanya yang baru saja ia tonton.
**

-dhilayaumil-

#30HariMenulisCerita #Day1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s