[Cerpen] Tentang yang Ingin Kauhapus Bayangannya

Aku sedang dalam perjalanan mendaki sebuah gunung di timur Jawa ketika kuingat perempuan itu. Perempuan yang hampir tiga tahun menemaniku sebagai kekasih dan terpaksa kuputuskan seminggu setelah hari jadian kami yang ketiga tahun.

Arteta. Aku tiba-tiba teringat dia ketika aku dan dua orang temanku sedang berhenti sejenak untuk beristirahat di sebuah sungai yang airnya jernih. Pemandangan yang jarang kutemukan di ibukota tempatku tinggal.

Matanya bening dan dia suka tersenyum. Ada dua buah lesung di kiri-kanan pipinya tiap dia tersenyum. Bayangan Teta yang tengah tersenyum sambil menatapku tiba-tiba melintas. Ah, aku rindu perempuan manis itu.

Apakah kau sangat sedih saat kita putus, Teta?

Ajakan temanku untuk melanjutkan perjalanan menyadarkanku. Perjalanan yang kulakukan juga karena ingin melepas kesedihan sejak hubunganku dan Teta berakhir.

Kami melanjutkan perjalanan menuju pos pertama pendakian. Bagaimanapun aku menepis bayangan Teta, tetap saja perempuan itu selalu hadir di perjalanku ini.

Tak ada namanya berpisah baik-baik, Yoga. Kita tak akan putus kalau saja kita masih baik-baik saja.‘ Begitu kata pesan singkat yang dikirim Teta sesaat setelah aku mengakhiri hubungan kami. Lewat pesan singkat pula.

Katakan aku memang pengecut. Memutuskan hubungan secara tiba-tiba lewat pesan singkat dan tak memberikan penjelasan mengapa kulakukan itu. Tapi sungguh, membayangkan dia sedang menangis saat mengetik pesan itu saja sudah sangat sakit, apalagi harus melihatnya menangis dengan mata kepalaku sendiri.

Laki-laki mana yang suka melihat perempuan menangis?

Sampai sekarang, setelah tiga bulan kami putus, aku belum pernah bertemu dengannya. Aku menghindari. Aku mencoba tak menggubris apapun yang dia lakukan. Hampir tiap hari ada pesan darinya yang masuk ke kotak masuk ponselku. Juga beberapa obrolan yang dia kirimkan ke pesan masuk facebook-ku, tak pernah kuhiraukan.

Aku memang pengecut. Lari dari masalah. Menghindari masalah dengan cara menciptakan masalah baru.

Kelak, kalau aku cukup sehat untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat tinggi, aku ingin ke Semeru denganmu.” Teta berkata suatu hari saat aku pamit ingin mendaki bersama teman-teman kantor.

Dosa paling besar yang sudah kulakukan pada Teta mungkin adalah memutuskan hubungan dan menghilang tanpa memberikannya penjelasan sedikit pun.

Kami sudah berada di pos 2, berhenti sejenak untuk makan siang dan istirahat. Kukeluarkan ponsel dari saku ransel. Sebelum berangkat tadi ada dua pesan yang masuk di ponselku dan belum sempat kubaca. Kubuka satu per satu pesan yang masuk.

Yang pertama dari Teta, berisi:
Aku baca di twittermu, hari ini kamu mau mendaki? Hati-hati, ya, semoga selamat sampai puncak dan pas turun.

Tenggorokanku tercekat. Ada yang sesak di dadaku. Aku rindu perempuan itu.

Tapi pesan kedua membuyarkan bayangan dan harapanku akan Teta.

Mas, jangan lama-lama ke gunungnya. Aku gak mau sendirian mempersiapkan pernikahan kita. Cepat pulang ya. Love you. :*

Ya, alasanku memutuskan hubungan yang kubangun tiga tahun karena ada perempuan lain yang akan segera kunikahi. Perempuan baik yang sangat mencintaiku. Perempuan yang dijodohkan denganku. Perempuan pilihan orang tuaku. Dan aku harus patuh jika tak mau dianggap sebagai anak durhaka.

Begitulah, aku mencintai perempuan lain dan terlalu pengecut untuk memperjuangkannya.

-dhilayaumil-

Iklan

Sharing Your Moment with #Twiries : Tentang Satu Jiwa dalam Dua Raga

image

Sejak SMP saya bermimpi kelak punya anak kembar atau minimal gebetan anak kembar–tentunya gebetan saya salah satu di antara mereka. Haha. Angan-angan itu perlahan berubah menjadi imajinasi dan melahirkan tokoh Arel dan Deril yang kelak saat saya SMA ‘si kembar’ itu menjadi tokoh dalam novel bergenre remaja yang saya tulis–tapi belum berani diterbitkan.

Dari SD sampai kuliah semester lewat sekarang, saya sudah akrab dengan anak-anak kembar. Saat SMA bahkan angan-angan SMP saya terwujud, punya gebetan anak kembar! Haha. Memasuki kuliah, saya kembali bertemu dengan salah satu dari anak kembar identik. Tak sampai di situ, bergabung di salah satu grup pencinta buku di media sosial What’s App saya lagi-lagi didekatkan dengan anak-anak kembar–salah satunya Teh V.

image

How lucky i am? ♡

Dan membaca Twiries: The Freaky Twins Diaries ini membangkitkan ingatan-ingatan remaja saya akan kehidupan anak-anak kembar di sekeliling saya. Buku bergenre personal literature (pelit) ini ditulis oleh si kembar Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki, dua perempuan yang bisa menjadi twin angel dan tak kadang pula menjadi twin evil. :p

image

Saya ingat beberapa waktu lalu, saya pernah memberi ide kepada V–panggilan supersingkat kepada Teh Evi–untuk mengerjai teman-teman di grup WA Love Books A Lot agar pura-pura menjadi Teh Va. Dan ide jail itu pun sukses ‘menipu’ hampir semua member. Hahaha.

image

image

Kejailan macam itu pernah mereka lakukan dan mereka ceritakan bersama cerita seru lainnya di buku ini. Ada curhatan bagaimana enak dan enggak enaknya jadi anak kembar. Juga cerita gimana saat yang satu punya pacar, yang satu juga pengen. Dan saat yang satu putus, yang satunya juga dipanas-panasin biar ikutan putus. Hakhakhak. Dan, oh, mereka bahkan punya rumah kembar! >.<

Saat pertama kali menonton trailer buku ini, saya merasa geli dengan pertanyaan orang-orang:

Apa sih bedanya kalian?

Dan jawaban mereka adalah…

image

Kalau mata Evi tuh, belo-belo sipit. Kalau Eva, sipit-sipit belo.

Well, membaca buku ini saya menemukan banyak hal tentang si kembar Teh Eva dan Teh Evi. Saya jadi tahu bahwa mereka–bahkan mungkin semua anak kembar di dunia–sama saja dengan anak-anak lainnya. Mereka kadang jail, kadang kompak, kadang bersaing, dan pastinya saling mendukung satu sama lainnya. Mereka sama dengan anak-anak lainnya, tak suka dibandingkan, apalagi dengan saudara sendiri.

Sampai detik ini, aku masih percaya bahwa kita satu jiwa dalam dua raga. Namun, raga kita membawa takdirnya, tak dapat dilawan, tak dapat dihentikan. Cintaku tak kalah indah dengan kasih Ibu. -Evi-

Buku bersampul hijau ini tidak hanya berisikan tulisan-tulisan dari duo Eva-Evi, tapi juga disisipi dengan gambar komik–bahkan bisa kamu beri warna sesuka hati–yang lucu dan menarik. Saya selalu tertawa setiap melihat bagian komik, sebab ada satu tokoh lelaki yang nasibnya ngenes di situ. Lelaki cepak yang suka banyak tanya. Wkwkwkwk.

image

Selain gambar komik, bagian favorit saya di buku pelit–yang dengar-dengar akan ada sekuelnya–ini adalah part berjudul ‘Persoalan Telepati’.

image

Part ini yang membuat saya tiba-tiba sangat kangen dengan tokoh Arel dan Deril ciptaan saya. Sebab, saat menulis novel saya selalu membayangkan dan bertanya-tanya, apa benar seorang anak kembar bisa melakukan telepati? Seperti film fantasi saja….

image

Yup! Feeling-feelingan! Saya lebih setuju soal itu.

image

Aaakkk. Buku ini keren, kocak, dan memberi saya gambaran tentang bagaimana sisi lain dari si kembar. Mereka yang menjalani lalu menuliskannya, membagi pada pembacanya. Cocok juga buat kamu yang sedang riset dalam pembuatan karya dengan tokoh anak kembar. ♥

image

Saya punya kebiasaan, ke manapun saya pergi saya pasti membawa buku bacaan. Entah dalam waktu sebentar atau lama. Dan beberapa waktu lalu saya diajak oleh teman-teman SMA saya yang banci foto mencari tempat yang asyik buat berfoto ria. Dan berjodohlah kami dengan tempat supersejuk dan hijau itu. Dan saat itu, buku yang sedang dalam tahap sementara saya baca adalah Twiries. ^^

Saat membaca buku, akan banyak momen yang akan kamu ingat juga momen yang kamu ciptakan. Kelak kalian akan menyebutnya sebagai kenangan, saat bertemu kembali dengan hal-hal yang menghubungkannya.

Bagaimanapun keadaan kamu lahir ke dunia: anak tunggal, kembar, tiga bersaudara, lima, atau berapapun … jangan lupa bersyukur. Sebab Tuhan tak pernah bercanda saat memilih takdir untukmu. 🙂

image

*Btw, saya punya kembaran. Itu namanya Kirana. Kami kembar perak. Lahir di tanggal dan bulan yang sama, sama-sama pejuang LDR, dan banyak kemiripan-kemiripan lainnya yang kalau dijelaskan akan jadi buku juga. Kami cuma beda di pipi doang kok. Tolong jangan ada yang protes. Sip. *Peluks*

banner lomba

webbanner_250x250px

-dhilayaumil-

[Cerpen] Tentang Ketua RT Kami

Aku baru pindah ke kompleks ini dua bulan lalu bersama suamiku. Kami adalah pasangan pengantin baru. Aku dan suamiku disambut hangat oleh warga di sini. Tapi aku belum sempat bertemu dan berkenalan dengan ketua RT dan ‘tetua’ di kompleks ini. Waktu melapor ke ketua RT pun aku tak ikut karena kelelahan habis pindahan.

Suamiku adalah seorang pelaut. Bulan depan dia akan berangkat kerja lagi dan baru akan pulang tiga bulan kemudian. Tetangga di sini sering mengatakan kami pasangan yang serasi. Kata mereka, suamiku orang yang romantis. Dia tak segan mengecup pipiku di halaman rumah saat ibu-ibu di kompleks sedang berkumpul di penjual sayur.

“Permisi.”

Suatu waktu ada yang bertamu ke rumahku. Suamiku sedang keluar bersama Pak Herman, tetangga kami, untuk membeli peralatan pancing. Kebetulan keduanya memiliki hobi yang sama.

Seorang lelaki paruh baya–kutaksir umurnya baru menginjak 30-an akhir–berdiri di depan pagar rumah. Dia mengenakan.kaos polo berwarna putih dan celana kain biru tua.

Aku keluar dan membukakan pagar. “Cari siapa, ya, Pak?” tanyaku sopan.

Dia tersenyum ramah. Ada gurat-gurat halus di ujung matanya saat tersenyum. “Pak Umar ada? Saya ketua RT di sini. Ibu istrinya, ya?”

Aku mengangguk sambil tersenyum ramah. Ternyata ini ketua RT di sini. Aku memang belum sempat bertemu sejak kepindahan kami ke sini. “Mas Umar lagi keluar, Pak. Silakan masuk dulu.”

Dia mengikutiku berjalan ke arah ruang tamu.

“Begini, Bu. Saya membawa undangan pertemuan warga. Kita akan membahas tentang rencana peluasan masjid.” Dia menyodorkan sebuah kertas putih yang dilipat rapi.

“Oh, baik, Pak. Nanti saya sampaikan.”

“Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu.”

“Lho, kok cepet? Saya buatkan minum dulu, ya, Pak.” Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan masuk menuju dapur dan berniat membuatkannya teh.

“Oalah, enggak usah repot-repot, Bu.”

*

Suamiku akhirnya berangkat berlayar. Meninggalkanku di lingkungan baru sendirian. Aku memeluknya erat sewaktu mau berangkat tadi. Rasanya enggan melepasnya. Membayangkan untuk pertama kalinya setelah pernikahan kami, aku ditinggal sendirian untuk waktu yang lumayan lama. 

“Tunggu aku pulang, ya, Sayang.” Dia menciumku agak lama sebelum kami berpisah di halaman.

Beberapa hari kemudian, Pak RT kami datang lagi. Ini sudah ketiga kalinya aku bertemu dengannya. Kali ini dia datang membawa undangan majelis taklim untuk ibu-ibu. Katanya, biasanya istrinya yang akan membawa undangan untuk ibu-ibu pengajian. Tapi istrinya sedang keluar kota sampai lusa.

“Minum dulu, ya, Pak.” Aku menyodorkan teh hangat kepada lelaki yang masih terlihat muda itu.
Setelah pertemuan itu aku makin sering bertemu dengan Pak RT kami. Entah dalam rangka pertemuan atau sosialisasi bersama warga-warga di sini. Maklum, suamiku jarang ada di rumah dalam waktu yang lama. Jadi, kadang aku menggantikannya jika ada rapat yang mewajibkan warga untuk hadir.

*

“Lusa suamimu pulang kan?”

Aku mengangguk sambil tetap menatapnya lembut. Tatapannya teduh membuatku nyaman, berbeda dengan tatapan suamiku yang tajam, membuatku selalu merasa aman.

“Kalau begitu kau harus mengganti seprei besok.”

“Hmmm….”

“Kau tidak mungkin melayani suamimu di atas seprei bekas kau melayani selingkuhanmu bukan?” Dia tertawa renyah.

Aku mengangguk sambil berbisik di telinganya, “Apalagi selingkuhanku itu adalah ketua RT-nya sendiri, yang sebelum berangkat berlayar, ia titipi untuk menjaga rumah dan istrinya.”

Kami tertawa lalu kembali bergumul di bawah selimut.

**

-dhilayaumil-

[Cerpen] Ramadan dan Kenangan

Kota ini tak pernah tidur. Sungguh. Bahkan di beberapa sudut, ada yang baru memulai aktivitasnya di atas pukul 12 malam. Tak terkecuali saat bulan puasa seperti ini. Kota ini tak pernah senyap barang sebentar, setidaknya itu yang kutangkap selama empat tahun hidup di sini.

Kota ini berbeda dengan kampung halamanku di Makassar.

Sudah empat ramadan aku tak pulang. Tak pernah sekalipun dalam empat tahun ini. Bukan karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku sebagai akuntan di salah satu perusahaan multimedia di sini. Bukan pula karena aku tak rindu dengan Ibu dan keluargaku di Kota Daeng sana. Bukan.

Tapi akulah yang mengurung diri di ibukota—yang kata sebagian orang—kejam ini.

Sungguh aku ingin sekali menikmati puasa bersama keluarga di sana. Aku ingin sekali menikmati masakan ibu. Ingin sekali makan bubur jagung buatan ibu yang dicampur dengan ikan asin. Aku ingin sekali bisa ikut salat tarawih di masjid kampung, mendengar suara merdu imam masjid yang kadang tak bisa menahanku untuk tak meneteskan air mata. Aku ingin menikmati semilir angin di pantai tempat jalan-jalan sehabis salat Subuh. Aku rindu rumah.

Kota ini sangat sibuk, hingga aku tak punya waktu untuk menikmati apapun yang diberikan kota penuh ingar-bingar ini. Kota yang ramai, tapi selalu memberi kesepian yang nyaris mematikan rasaku. Kota dengan kemacetan di setiap sudut, yang seolah-olah menertawakan orang-orangnya karena hampir menghabiskan hari-harinya hanya berkutat dengan kendaraan dan polusi jalanan.

Aku rindu kampung halamanku, yang saat pagi hingga petang memberi rasa senang dan nyaman, juga memberikan rasa senyap yang aman kala malam. Bebas macet dan masih hijau.

Suara azan membuyarkan lamunanku. Saatnya berbuka puasa. Aku menenggak teh manis hangat dan mencomot sebutir kurma dari piring. Alhamdulillah. Tiba-tiba ada sms masuk di ponselku. Dari ibu. Beliau mengucapkan selamat berbuka puasa. Hampir setiap hari dia melakukan hal yang sama dan segera kubalas ucapan yang sama, meskipun kutahu mereka di sana berbuka 45 menit lebih dulu daripada aku.

Ah, aku rindu engkau, Ibu ….

Berbuka puasa dalam kesendirian. Di kontrakan, jauh dari Ayah, Ibu, dan adik-adikku. Kubayangkan mereka di sana berbuka puasa dengan menu es buah andalan Ibu lalu salat Maghrib berjamaah.
Ada sms balasan dari Ibu.

Nak, kamu ndak pulang lagi lebaran ini?

Tak sadar air mataku menetes. Aku bisa jadi bahan bully-an teman sekantor kalau mereka tahu aku menangis. Tapi aku tak peduli, aku rindu ibu. Rindu sekali. Ingin kupeluk dan kucium tangannya. Aku ingin bersimpuh meminta ampun dan maaf pada Ibu.

Maaf karena empat tahun kutinggalkan ia dan kampung halaman. Maaf karena selama empat tahun kukurung diriku di sini dan tak kubiarkan mereka menjengukku ke sini. Menepi ke kota bernama Jakarta. Berusaha melupakan apa yang telah terjadi sebelum aku berangkat ke sini. Sebut saja aku sedang lari.

Aku tak mau pulang sebelum berhasil bangkit. Aku tak mau pulang sebelum aku menyembuhkan sendiri luka yang kubawa ini ….

Luka yang kautorehkan, Teta.

Mengingat segala hal di Makassar sana, membuatku terus mengingatmu. Bahkan setelah empat tahun, Teta. Terlebih saat ramadan tiba, kenangan akan masa kecil kita hingga remaja menyeruak memenuhi segala rongga yang bisa dimasuki, membuatku sesak dan ingin berteriak hingga semua orang di kota sibuk ini mendengarnya.

Saat kita kecil, setelah salat Ashar kita akan berkumpul dengan teman-teman lain di pinggir pantai. Membawa layang-layang untuk kemudian diterbangkan bersama-sama. Kau akan bertugas memegang layanganku yang akan diterbangkan. Aku ingat setelah bermain layangan dan masih ada waktu sebelum pukul 5 kita kembali ke rumah untuk siap-siap berbuka, kita akan bermain air di laut. Aku akan mengejarmu karena kau melempariku dengan pasir basah. Anak-anak lain menyoraki kita, terlalu sering. Kita sudah biasa diolok-olok sebagai ‘pasangan’. Kita hanya bisa mengelak dengan muka merah karena malu.

Sebelum langit sore jadi merah sekali,
Anak-anak riang bermain di pantai.
Saling berkejaran dan lepas tertawa.
Aku dan kau, dua di antara mereka.
Aku lelaki kecil yang sungguh peragu,
kau gadis mungil yang sungguh pemalu.
Ketika tiba giliranku mengejar, aku sengaja mengejarmu dan berusaha tak menangkapmu.
Aku biarkan kau menjauh dari anak-anak lain.
Di sebuah tempat, saat kau jatuh di ujung ombak
aku menangkapmu. Aku menatap dua matamu,
kau menunduk menatap pantulan wajahku di air.
Anak-anak lain menertawakan kita.
Wajah kita jadi merah seperti senja yang sebentar lagi tiba.*

Lalu menjelang buka puasa kau akan datang ke rumahku, membawa es pisang ijo buatan ibumu. Saat kukembalikan, tempat pisang ijo-mu tadi kini telah berisi es buah buatan ibuku. Begitulah selalu kita bertukar makanan, kadang dengan isi yang berbeda-beda.

Suatu waktu juga, setelah salat Subuh di masjid, kita akan beramai-ramai berjalan kaki menuju jalan raya di pinggir kampung. Kita menyebutnya ‘jalan-jalan Subuh’ dan kembali melewati jalan yang sama saat pulang. Dan selama perjalanan kita akan bertukar cerita apapun. Tentang menu sahur sampai acara sinetron ramadan yang diputar di tv.

Begitu banyak kenangan akan ramadan yang mengingatkanku akan dirimu, Teta.

Aku kembali menatap layar ponsel yang menampilkan sms ibu. Mungkin ibu sudah tahu jawabanku, tapi tetap saja beliau punya harapan aku akan pulang untuk lebaran tahun ini. Aku menghitung. Sisa dua pekan sebelum lebaran. Mungkin kalau aku berubah pikiran sekarang aku masih bisa membeli tiket pesawat untuk pulang.

Tapi mengingatmu dan kenangan-kenangan kita selama 20 tahun terus berlomba masuk dan membuat dadaku sesak, aku kadang tidak punya pilihan selain masih menyembunyikan diri di sini.
Kaulah yang membuatku lari lalu mengurung diri di kota ramai yang nyaris membuatku mati kesepian ini.

Malam lebaran, empat tahun lalu. Umur kita sama-sama 22 tahun. Di kampung kita, umur segitu perempuan-perempuannya sudah menikah bahkan sudah memiliki anak. Waktu itu aku menggodamu dan bertanya kapan kau akan menikah. Kuingat saat itu wajahmu langsung berubah tegang dan menatapku dengan pandangan sedih.

Firman, setelah lebaran, maukah kau melamarku?

Aku tersentak. Mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Ada apa? Perasaanku langsung tak enak.

Kemarin malam ayah bilang kalau bulan depan sebelum lebaran haji, ayah Aji mau melamarku untuk Aji.” Air matamu menetes. Aku ingat betul matamu yang coklat itu tampak redup, sedih.

Aku tak tahu harus bilang apa. Aku tak tahu mau menjawab apa. Aku merasa belum mampu untuk melamarmu waktu itu. Aku baru lulus kuliah di kota Makassar dan baru memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan. Lalu kau menyuruhku melamarmu? Mau kuberi makan apa kau nanti?

Tunggulah dua atau tiga tahun lagi, Teta. Sampai aku punya cukup uang untuk panaik’mu.

Aku sangat bisa dan mau menunggumu, Firman. Tapi ayahku tidak. Mereka bahkan sudah membicarakan uang panaikku.” Kau terisak di antara riuh suara takbir yang menggema ke seluruh kampung.

Dan terjadilah semuanya. Selang tiga bulan kemudian, kau menikah. Bukan denganku duduk di pelaminan, tapi dengan Aji. Anak Pak Lurah yang memberimu hadiah pernikahan berupa rumah di salah satu perumahan di kota Makassar.

Semua orang tahu bagaimana hubungan kita, Teta. Sejak umur enam tahun sampai 22 tahun kita selalu bersama-sama. Ibuku, ibumu, ayahku, ayahmu, teman-teman kita, warga kampung, semua tahu kedekatan kita. Mereka mungkin tahu bagaimana sedihnya aku melihatmu di pelaminan itu. Mereka mungkin bisa membayangkan betapa hancur hati lelaki Bugis ini yang melihat kekasihnya ijab qabul bersama lelaki lain.

Tapi, tidak ada yang benar-benar tahu Teta. Tidak ada yang tahu betapa sesak, hancur, dan sakitnya perasaanku karena perempuan yang mencintai dan kucintai kini sudah jadi milik orang lain. Tak ada yang tahu selain aku dan Tuhan.

Maka itulah yang terjadi. Tepat dua bulan setelah pernikahan, kau hamil dua minggu. Kau hamil, Teta. Dan itu bukan anakku. Anakmu dengan lelaki lain. Hancur sudah mimpi-mimpi keluarga yang kita bangun. Aku lari ke tempat-tempat kenangan kita. Ke sekolah, ke pantai, ke jalan raya, ke lapangan, bahkan ke halaman masjid. Aku hanya berlari dari satu tempat ke tempat lain. Lari sekencang yang kubisa.
Lalu saat pulang, kucari ibuku. Kupeluk dia erat-erat. Tangisku pecah di pelukannya. Dia mengerti dan hanya mendengarku menangis sambil memelukku hangat. Begini rasanya patah hati, Teta. Begini lelaki patah hati ini, hanya bisa menangis di pelukan ibunya dan di hadapan Tuhannya. Beginilah aku, Teta.

Beginilah aku, mengurung diri di sini. Membawa segalanya ke sini empat tahun lalu. Sakit, duka, dan luka yang menganga. Aku melamar pekerjaan sana-sini hampir lima bulan hingga diterima di kantorku sekarang.Menyibukkan diri dengan rutinitas yang super padat dan itu-itu saja. Pergi pukul enam pagi dan sampai di kontrakan pukul 9 malam. Tak kubiarkan diriku mengingatmu dalam porsi yang banyak. Tak mau aku….

Tapi ramadan selalu membuat luka yang hampir sembuh itu, perih lagi. Terlalu banyak momen manis yang ditutup dengan kabar perih di ramadan yang kita lalui.
Kini, saat perlahan uangku telah cukup untuk membangun rumah keluarga di kampung dan rumah masa depan yang sejak SMP aku angan-angankan untuk kita, kau di kota dengan pantai-pantai indah di sana juga telah menjalani takdirmu. Menjadi istri dan ibu di rumah masa depanmu. Tapi bukan denganku.

Kau melewati ramadan dengan keluarga kecilmu. Aku selalu membayangkan senyum di pipi bulatmu saat kau melihat anakmu yang sedang lucu-lucunya. Aku membayangkan kau sedang bernyanyi riang sambil menyiapkan buka puasa untuk keluargamu, es pisang ijo kesukaanmu–dan aku. Lalu di malam lebaran, kau tak lagi berkeliling kampung membawa obor dan berteriak takbir bersamaku dan anak-anak lain. Melainkan duduk bersama suami dan anak balitamu, menggumamkan nama Tuhan secara bersama-sama. Betapa bahagianya kalian….

Mengingatnya membuatku ingin meraung, menangis lagi sejadi-jadinya. Teta, setiap kali itu terjadi, aku selalu merasa membutuhkan pelukan ibu ….

**

*Potongan sajak berjudul “Tiga Cara Menulis Sajak Tentang Kau Saat Berada di Sebuah Pulau yang Jauh” karya M. Aan Mansyur

-dhilayaumil-

[Cerpen] Sepeda untuk Hasan

Sebuah sepeda untuk hari ulang tahun Hasan yang kesembilan. Kau tersenyum sendiri setiap membayangkan wajah anakmu yang pasti akan berseri saat melihat hadiah ulang tahunnya itu.

Kaududuk di tepi jendela rumahmu yang berhadapan langsung dengan sawah-sawah yang masih hijau. Di kejauhan tampak bukit-bukit kecil. Di sana anakmu Hasan sering bermain-main dengan teman-temannya.

“Hasan …,” gumammu pelan.

Sore sebentar lagi tidur. Kautersenyum tiap membayangkan wajah anakmu yang tentu akan senang mendapat hadiah sepeda.

“Hasan ….” Kau memanggil lagi namanya.

Suara langkah kaki membuatmu berbalik. Bukan Hasan. Tapi kau tetap tersenyum mendapati suamimu yang baru selesai mandi mendekat padamu.

“Mas, minggu depan ulang tahun Hasan. Apa kau sudah membeli sepeda untuk hadiahnya?” Kau memegang lengan suamimu yang coklat,terkena sinar matahari ladang hampir tiap hari.

Suamimu tersenyum lembut. “Kau sudah makan, Dek?” tanya suamimu sambil melirik makanan yang tak kausentuh di meja yang tak jauh dari jendela.

“Kau sudah membeli sepeda untuk anak kita, Mas?” Kauulang pertanyaanmu.

“Makanlah du–”

“Minggu depan ulang tahunnya. Hasan ingin sekali punya sepeda seperti punya Salim, Mas. Kasihan dia ke sekolah harus jalan 5 kilo, sementara teman-temannya sudah punya sepeda semua.” Kau terus saja berceloteh.

Suamimu mengembuskan napas pelan. Dia lalu menyentuh lembut kepalamu, lalu membelainya penuh kasih. Ada kesedihan di manik matanya yang luput kautangkap.

“Hasan suka warna hijau dan hitam. Mas belikan nanti sepeda yang warnanya seperti itu, ya? Sarah ndak sabar mau ngajarin Hasan naik sepeda. Eh, atau dia sudah pintar, ya? Tiap hari kan dia main sama Salim, mungkin saja dia dipinjami sepeda untuk belajar ….”

“Dek … kamu makan dulu. Urusan sepeda untuk Hasan, nanti biar Mas yang urus. Kamu tenang saja, ya.” Suamimu tersenyum.

Kau mengangguk senang. Tersenyum sambil memeluk lengan suami yang telah mengasihimu selama sepuluh tahun lebih, yang telah memberikanmu seorang anak yang bernama Hasan. Ah, lagi-lagi kau tersenyum membayangkan betapa senangnya Hasan saat ulang tahunnya nanti mendapat sepeda dari kalian.

*

“Sayang, Mas berangkat ke sawah dulu, ya? Nanti ibu mau datang.” Suamimu mengecup lembut keningmu. Dia memegang parang yang sehari-hari dia pakai berladang.

“Mas sudah beli sepeda buat Hasan? Besok hari ulang tahunnya. Sarah mau undang orang-orang kampung di syukuran ulang tahun anak kita besok. Ibu mau datang buat bantu Sarah masak nasi kuning ….”

Suamimu tertunduk. Ia teringat dua ekor kambing di kandang kecil belakang rumah kalian. Kambing yang rencananya akan dipakai suamimu untuk membayar rumah sakit suatu waktu.

Apa aku harus menjual yang seekor lalu membelikannya sepeda?

Kau menatapnya memelas, berharap sepeda hijau-hitam akan ada di rumah kalian besok saat Hasan ulang tahun.

“Baiklah, besok akan kubelikan sepeda untuk Hasan ….”

*

Tak ada pesta. Tak ada perayaan. Tak ada nasi kuning dan lilin yang siap mengaminkan doa-doa.

“Selamat ulang tahun kami ucapkan … selamat panjang umur kita kan doakan … selamat sejahtera, sehat sentosa ….” Kau bernyanyi riang di depan sepeda kecil berwarna hijau-hitam beroda dua yang baru saja dibawa suamimu.

“Selamat ulang tahun Hasan, anak ibu tersayang. Akhirnya kamu bisa naik sepeda ke sekolah….” Kau menatap sepeda itu dengan mata berbinar-binar.

Dan tak ada Hasan.

Suami dan ibumu menatapmu sedih. Menatap sepeda yang tak akan pernah dikendarai oleh Hasan itu.

Suatu waktu kau mendengar cerita orang yang lewat di depan rumah melalui jendela yang hampir tiap hari jadi tempatmu menunggu Hasan yang tak pernah pulang ….

Iya, dia seperti itu sejak setahun lalu. Kata orang dia stres.”

Hasan anaknya meninggal tahun lalu tepat saat ulang tahunnya yang kedelapan.…”

Kasihan, ditabrak mobil saat ke kota sama ibu dan bapaknya mau beli sepeda untuk hadiah ulang tahunnya.…”

Kau tiba-tiba lupa bahwa kini kau tak punya anak lagi ….

-dhilayaumil-