[Cerpen] Tentang Cinta Pandangan Pertama dan yang Kadaluarsa

Arteta tak percaya cinta pada pandangan pertama. Menurutnya cinta tak dibangun dari pertemuan pertama. Pandangan pertama adalah kesan. Selanjutnya baru bisa dipastikan apakah seseorang bisa jatuh cinta atau malah tak peduli. Setidaknya itu yang bisa ia simpulkan sampai saat ini. “Hah, kau ini. Jadi kapan kau akan jatuh cinta?” Perempuan itu menggeleng pelan. “Tak tahu, […]

[Cerpen] Sepeda untuk Hasan

Sebuah sepeda untuk hari ulang tahun Hasan yang kesembilan. Kau tersenyum sendiri setiap membayangkan wajah anakmu yang pasti akan berseri saat melihat hadiah ulang tahunnya itu. Kaududuk di tepi jendela rumahmu yang berhadapan langsung dengan sawah-sawah yang masih hijau. Di kejauhan tampak bukit-bukit kecil. Di sana anakmu Hasan sering bermain-main dengan teman-temannya. “Hasan …,” gumammu […]

[Cerpen] Tentang Utang yang (belum) Lunas

Lelaki tua itu datang saat jam tua di dinding rumahmu menunjukkan angka sembilan lewat lima malam. Dia masuk tanpa salam apalagi senyum ramah. “Utangmu sudah jatuh tempo, Herman. Serahkan sekarang, dua juta dengan bunga.” Dia memelintir kumis putihnya. Istri dan kedua anak perempuanmu diam di sudut ruangan kecil yang kalian sebut rumah ini. Teta, anak […]

[Cerpen] Tentang Burung yang Tak Bisa Terbang

“Mengapa kau tak potong saja sayapku sekalian?” “Apa kau yakin tidak akan sekarat kalau sayap-sayap indahmu itu kupotong?” “Aku ini burung! Aku punya sayap untuk terbang, bukan untuk hiasan di kandang sialan ini!” “Diamlah, kau lebih aman di situ daripada di luar sana. Banyak ancaman buatmu.” “Kau kira kalau aku dikurung di sini terus, aku […]