[Cerpen] Tentang Cinta Pandangan Pertama dan yang Kadaluarsa

Arteta tak percaya cinta pada pandangan pertama. Menurutnya cinta tak dibangun dari pertemuan pertama. Pandangan pertama adalah kesan. Selanjutnya baru bisa dipastikan apakah seseorang bisa jatuh cinta atau malah tak peduli. Setidaknya itu yang bisa ia simpulkan sampai saat ini. “Hah, kau ini. Jadi kapan kau akan jatuh cinta?” Perempuan itu menggeleng pelan. “Tak tahu, […]

[Cerpen] Tentang Utang yang (belum) Lunas

Lelaki tua itu datang saat jam tua di dinding rumahmu menunjukkan angka sembilan lewat lima malam. Dia masuk tanpa salam apalagi senyum ramah. “Utangmu sudah jatuh tempo, Herman. Serahkan sekarang, dua juta dengan bunga.” Dia memelintir kumis putihnya. Istri dan kedua anak perempuanmu diam di sudut ruangan kecil yang kalian sebut rumah ini. Teta, anak […]

[Sastra Kepo] Tentang Idha, Istriku

Namanya Idha. Bulan depan dia berumur sembilan belas tahun, dua tahun di atasku. Wajahnya cantik dan polos, khas perempuan desa. Dia anak kepala desa. Dan dia istriku. Kami menikah dua tahun lalu, saat umurku lima belas tahun dan dia tujuh belas tahun. Kami dijodohkan dan saling jatuh cinta sejak malam pertama kami. Anak kami lahir […]

[Cerpen] Tentang Burung yang Tak Bisa Terbang

“Mengapa kau tak potong saja sayapku sekalian?” “Apa kau yakin tidak akan sekarat kalau sayap-sayap indahmu itu kupotong?” “Aku ini burung! Aku punya sayap untuk terbang, bukan untuk hiasan di kandang sialan ini!” “Diamlah, kau lebih aman di situ daripada di luar sana. Banyak ancaman buatmu.” “Kau kira kalau aku dikurung di sini terus, aku […]